Sikapi Kondisi Ekonomi Global Purbaya Ada Efisiensi MBG

Sikapi Kondisi Ekonomi Global Purbaya Ada Efisiensi MBG

Cermatkita.net – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi pada kuartal pertama tahun 2026, pemerintah Indonesia dituntut untuk mengambil langkah strategis dalam menjaga stabilitas fiskal. Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), memberikan pandangan kritis mengenai bagaimana Indonesia seharusnya memposisikan diri. Salah satu poin krusial yang ia sampaikan adalah urgensi efisiensi dalam pelaksanaan program unggulan pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara berlebihan.

Purbaya Tekankan Pentingnya Efisiensi Program MBG

Ekonomi global saat ini sedang menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, konflik geopolitik di berbagai belahan dunia telah mengganggu rantai pasok energi dan pangan, yang menyebabkan inflasi sulit ditekan di level internasional. Di sisi lain, kebijakan moneter dari bank sentral negara-negara maju, khususnya The Fed, masih menunjukkan tren yang fluktuatif, membuat aliran modal keluar dari negara berkembang (capital outflow) menjadi ancaman nyata bagi nilai tukar Rupiah.

Purbaya menekankan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan instrumen moneter semata. Koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal harus lebih erat dari sebelumnya. “Kita berada di tengah badai ekonomi yang belum sepenuhnya mereda. Daya beli masyarakat harus dijaga, tetapi ruang fiskal kita terbatas. Oleh karena itu, setiap rupiah yang dikeluarkan dari APBN harus memiliki dampak pengganda (multiplier effect) yang maksimal,” ujarnya dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta.

Optimalisasi MBG sebagai Jaring Pengaman Sosial

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang bukan sekadar sebagai bantuan sosial, melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pengentasan stunting. Namun, dengan skala program yang mencakup puluhan juta anak sekolah di seluruh pelosok negeri, tantangan logistik dan biaya menjadi sangat besar. Purbaya menyoroti bahwa tanpa efisiensi yang ketat, program ini berisiko menjadi beban fiskal yang kontraproduktif terhadap target pertumbuhan ekonomi 5-6%.

Efisiensi yang dimaksud bukan berarti mengurangi kualitas nutrisi yang diberikan kepada anak-anak. Sebaliknya, pemerintah diminta untuk memperbaiki sistem pengadaan barang dan distribusi. Penggunaan teknologi digital dalam pemantauan distribusi bahan pangan diharapkan dapat meminimalkan kebocoran anggaran dan memastikan bahwa bantuan sampai ke tangan yang tepat tepat pada waktunya.

Mendorong Ekonomi Lokal Lewat Rantai Pasok MBG

Salah satu strategi efisiensi yang ditawarkan adalah dengan memaksimalkan keterlibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani lokal dalam rantai pasok program MBG. Daripada bergantung pada impor bahan pangan yang harganya sangat dipengaruhi oleh kurs dolar, pemerintah didorong untuk mengoptimalkan hasil bumi dari daerah setempat. Langkah ini dianggap cerdas karena secara simultan menekan biaya distribusi sekaligus menggerakkan ekonomi di tingkat desa.

Dengan menyerap produk petani lokal secara langsung, harga bahan baku dapat lebih terkendali karena rantai distribusi yang lebih pendek. Ini adalah bentuk efisiensi yang berkeadilan, di mana anggaran negara berputar di dalam negeri dan memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah krisis global yang tak menentu.

Kesimpulan: Menjaga Keseimbangan Fiskal

Menyikapi kondisi ekonomi global tahun 2026 memerlukan ketangkasan dalam mengeksekusi kebijakan. Program MBG memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas bangsa di masa depan, namun keberhasilannya sangat bergantung pada transparansi dan efisiensi manajemen anggarannya saat ini. Pandangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi pengingat penting bahwa di tengah ambisi besar membangun bangsa, kedisiplinan fiskal tetaplah menjadi fondasi utama.

Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil mampu menyeimbangkan antara kebutuhan mendesak masyarakat dan kesehatan ekonomi jangka panjang. Hanya dengan efisiensi yang matang, Indonesia dapat melewati gejolak ekonomi global dengan kepala tegak dan fundamental yang semakin kokoh.