Presiden Prabowo Rayakan Malam Tahun Baru 2026 Bersama Rakyat Aceh

Presiden Prabowo Rayakan Malam Tahun Baru 2026 Bersama Rakyat Aceh

CERMAT KITA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan akan menghabiskan malam pergantian tahun baru 2026 di Provinsi Aceh. Langkah ini diambil sebagai bentuk empati dan komitmen nyata Kepala Negara terhadap masyarakat Aceh yang sedang berjuang pulih dari dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa rencana ini merupakan arahan langsung dari Presiden yang ingin memastikan proses pemulihan pascabencana berjalan dengan cepat dan tepat sasaran. Menurut Qodari, kehadiran Presiden di tengah masyarakat Aceh pada momen pergantian tahun bukan sekadar kunjungan formal, melainkan simbol solidaritas nasional.

Fokus pada Pemulihan dan Kemanusiaan

Kunjungan yang dijadwalkan pada Rabu, 31 Desember 2025, ini akan difokuskan pada wilayah-wilayah yang terdampak paling parah. Berdasarkan informasi dari KSP dan Sekretariat Kabinet, salah satu titik yang menjadi perhatian utama adalah Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tamiang.

“Bapak Presiden berencana menyambut malam pergantian tahun bersama warga di Aceh. Beliau ingin mendengar langsung aspirasi masyarakat dan memastikan bahwa bantuan pemerintah, baik logistik maupun pembangunan infrastruktur, telah diterima dengan baik,” ujar Qodari dalam keterangannya di Jakarta (30/12).

Keputusan Presiden untuk tidak merayakan tahun baru dengan pesta kembang api di ibu kota, melainkan di lokasi bencana, mendapat apresiasi luas. Hal ini dinilai sejalan dengan instruksi efisiensi anggaran yang sering ditekankan Prabowo sejak awal masa jabatannya. Pemerintah menegaskan bahwa pendanaan untuk pemulihan bencana ini telah dioptimalkan melalui penghematan birokrasi dan hasil penegakan hukum di sektor-sektor strategis seperti perkebunan sawit dan pertambangan.

Agenda Strategis: Huntara dan Infrastruktur

Selain menyapa warga, agenda Presiden di Aceh juga mencakup peninjauan proyek infrastruktur vital. Salah satu pencapaian yang akan dipantau adalah kesiapan Hunian Sementara (Huntara). PT Nindya Karya melaporkan bahwa sebanyak 204 unit Huntara di Aceh ditargetkan siap huni pada 1 Januari 2026.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, juga mengonfirmasi bahwa Presiden dijadwalkan mengunjungi Aceh Tamiang pada hari pertama tahun 2026. Wilayah ini menjadi perhatian khusus karena tumpukan lumpur dan kerusakan infrastruktur yang masif memerlukan kerja bakti skala besar atau “pengeroyokan” oleh berbagai instansi, termasuk TNI dan Polri.

“Pembersihan harus dimobilisasi secara total. Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur menjadi prioritas. Kehadiran Bapak Presiden pada tanggal 1 Januari nanti diharapkan menjadi penambah semangat bagi tim di lapangan dan masyarakat,” kata Tito.

Instruksi Khusus untuk Sektor Pangan dan Ekonomi

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Presiden Prabowo telah menginstruksikan kementerian terkait untuk tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemulihan ekonomi warga. Beberapa poin penting yang ditekankan antara lain:

  1. Rehabilitasi Lahan Pertanian: Memperbaiki sawah yang rusak agar petani dapat segera kembali berproduksi.
  2. Penghapusan Utang KUR: Bagi petani yang terdampak bencana force majeure, Presiden menginstruksikan penghapusan utang Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar mereka tidak terbebani di masa pemulihan.
  3. Ketahanan Logistik: Memastikan jalur logistik antarprovinsi tetap terbuka dengan pembangunan jembatan darurat (Bailey) yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Gotong Royong Nasional

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menambahkan bahwa semangat yang dibawa Presiden dalam kunjungan ini adalah semangat gotong royong. Ia menyebutkan bahwa pemerintah pusat bekerja sama erat dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga kemanusiaan untuk memastikan Aceh segera bangkit.

BPI Danantara dan Kementerian Perumahan juga telah mulai menggerakkan proyek pembangunan 15.000 rumah hunian tetap (Huntap) di tiga provinsi terdampak (Aceh, Sumut, dan Sumbar), dengan lahan yang disediakan oleh BUMN dan PTPN.

Malam tahun baru di Aceh kali ini diprediksi akan berlangsung sederhana namun penuh makna. Tanpa kemeriahan yang berlebihan, kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini diharapkan dapat memberikan harapan baru bagi rakyat Aceh untuk melangkah ke tahun 2026 dengan lebih optimis.