Iran Chaos! Rakyat Bakar Masjid & Kutuk Khamenei dalam Protes Besar

Iran Chaos! Rakyat Bakar Masjid & Kutuk Khamenei dalam Protes Besar

CERMAT KITA – Republik Islam Iran kini berada di titik nadir. Memasuki minggu kedua Januari 2026, gelombang unjuk rasa yang awalnya dipicu oleh keruntuhan ekonomi dan inflasi rekor kini telah bertransformasi menjadi pemberontakan nasional terbesar sejak Revolusi 1979. Kota-kota besar seperti Tehran, Mashhad, Isfahan, hingga wilayah perbatasan di Sistan-Baluchistan berubah menjadi medan tempur antara warga sipil dan aparat keamanan.

Kemarahan yang Meledak: Masjid dan Simbol Negara Jadi Sasaran

Laporan terbaru dari lapangan menunjukkan eskalasi kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di Distrik Saadatabad, wilayah barat laut Tehran, sebuah masjid besar dilaporkan dibakar oleh massa yang marah pada Kamis malam (8/1/2026). Pembakaran ini menjadi simbol kemarahan yang meluap terhadap institusi yang dianggap sebagai pilar ideologis rezim.

Video yang terverifikasi menunjukkan kepulan asap hitam membubung dari bangunan tersebut, sementara ribuan pengunjuk rasa di sekitarnya meneriakkan slogan anti-pemerintah. Fenomena ini mengejutkan banyak pihak, mengingat tempat ibadah jarang menjadi sasaran langsung dalam sejarah protes Iran sebelumnya. Namun, para demonstran kini melihat struktur keagamaan resmi sebagai bagian tak terpisahkan dari penindasan politik yang mereka alami.

Di Alun-Alun Punak, Tehran, warga menyalakan kembang api dan memukul panci (sebuah bentuk protes simbolis) sambil meneriakkan kutukan kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Slogan “Mati bagi Diktator” dan “Khamenei, pergilah!” bergema di sepanjang jalan-jalan utama.

Krisis Ekonomi sebagai Pemantik Utama

Pemicu utama dari kekacauan ini adalah kondisi ekonomi yang terjun bebas. Nilai tukar Rial mencapai titik terendah sepanjang masa, menyebabkan harga bahan pokok seperti roti dan daging melonjak hingga 300% dalam waktu singkat. Kelangkaan air yang kronis di wilayah tengah Iran dan pemadaman listrik yang berkepanjangan semakin memperparah penderitaan rakyat.

“Kami tidak lagi punya apa-apa untuk dimakan. Kami tidak takut mati oleh peluru jika kami sudah mati karena kelaparan di rumah,” ujar seorang pengunjuk rasa di Mashhad, kota kelahiran Khamenei yang biasanya dikenal religius namun kini menjadi salah satu pusat kerusuhan paling membara.

Respon Keras Rezim: Peluru Tajam dan Pemutusan Internet

Pemerintah Iran merespons dengan tangan besi. Sejak 8 Januari 2026, otoritas telah memberlakukan pemadaman internet total secara nasional (blackout) untuk mencegah penyebaran informasi dan koordinasi massa. Meskipun demikian, laporan dari organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Iran Human Rights (IHR) menyebutkan jumlah korban tewas telah melampaui 200 jiwa hanya dalam beberapa hari terakhir.

Di Zahedan, pasukan keamanan dilaporkan melepaskan tembakan langsung ke arah jemaah yang baru saja selesai melaksanakan shalat Jumat di Masjid Makki. Saksi mata menggambarkan pemandangan mengerikan dengan tubuh-tubuh yang bergelimpangan di jalanan. Di Tehran, rumah sakit dikabarkan kewalahan menangani pasien dengan luka tembak, sementara aparat keamanan mulai melakukan penggerebekan ke dalam bangsal medis untuk menangkap demonstran yang terluka.

Ancaman Intervensi Internasional

Situasi yang semakin tidak terkendali ini menarik perhatian dunia internasional. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui pernyataan resminya telah memberikan peringatan keras kepada Teheran. Trump menyatakan bahwa AS siap membantu rakyat Iran yang sedang berjuang demi kebebasan dan memperingatkan rezim bahwa akan ada konsekuensi militer yang “sangat keras” jika pembantaian terhadap warga sipil terus berlanjut.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam pidatonya baru-baru ini menuding bahwa kerusuhan ini adalah hasil rancangan musuh asing, terutama AS dan Israel. Ia menyebut para demonstran sebagai “perusuh” dan “agen asing” yang harus diberi pelajaran tanpa belas kasihan.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Pengamat politik internasional menilai bahwa gerakan kali ini berbeda dengan protes tahun 2022 (kasus Mahsa Amini). Kali ini, protes tidak memiliki pemimpin tunggal namun menyebar secara organik ke seluruh 31 provinsi di Iran. Keterlibatan kelas pekerja, pedagang pasar (bazaar), hingga mahasiswa menciptakan aliansi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan rezim.

Hingga saat ini, kondisi di Iran masih sangat mencekam. Dengan internet yang diputus dan militer yang dikerahkan ke jalan-jalan, dunia menunggu apakah rezim akan mampu meredam amarah rakyat atau justru ini akan menjadi babak akhir dari kekuasaan Republik Islam yang telah bertahan selama 47 tahun.