Kuartal III-2025: Ekonomi Amerika Serikat Capai Pertumbuhan 4,3%

Kuartal III-2025 Ekonomi Amerika Serikat Capai Pertumbuhan 4,3%

CERMAT KITA – Perekonomian Amerika Serikat mencatat percepatan pertumbuhan yang signifikan di kuartal III tahun 2025, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 4,3% secara tahunan, jauh melampaui ekspektasi para ekonom yang memperkirakan sekitar 3,0% hingga 3,3%. Ini menjadi laju ekspansi tercepat selama dua tahun terakhir, mencerminkan ketahanan permintaan domestik sekaligus kekuatan sektor‑sektor tertentu di tengah tantangan global dan domestik yang tidak sedikit.

Laporan awal dari Bureau of Economic Analysis (BEA) menunjukkan angka ini hanya tersedia setelah penundaan pelaporan dua bulan akibat shutdown pemerintah federal yang berkepanjangan, namun tetap memberikan gambaran kuat mengenai momentum ekonomi AS sebelum penutupan tersebut.

  1. Konsumen AS Menjadi Penggerak Utama

Komponen terbesar PDB AS pengeluaran konsumen kembali menjadi inti dalam pertumbuhan kuartal ini. Belanja rumah tangga meningkat sekitar 3,5%, tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir, didorong oleh pembelian barang dan jasa seperti kendaraan, perawatan kesehatan, rekreasi, hingga perjalanan internasional.

Para analis menyatakan bahwa daya beli konsumen masih solid, meskipun inflasi tetap berada di atas target yang diinginkan Federal Reserve. Pengeluaran konsumen menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS dan mencerminkan kepercayaan relatif di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kondisi pasar tenaga kerja dan biaya hidup.

Namun, survei independen juga menunjukkan ketidakpastian yang besar di kalangan pekerja: kekhawatiran kehilangan pekerjaan kini menjadi salah satu isu utama, bahkan naik di atas kekhawatiran tentang kesehatan dan keseimbangan kerja‑hidup bagi banyak orang Amerika. Ini mencerminkan adanya jurang antara statistik makro yang kuat dan pengalaman finansial banyak rumah tangga.

  1. Ekspor, Investasi, dan Permintaan Luar Negeri

Selain konsumsi domestik, ekspor Amerika Serikat melonjak hingga mendekati 9%, membantu mempersempit defisit perdagangan dan mendorong output nasional. Produk AS seperti barang modal, farmasi, dan jasa profesional mengalami permintaan kuat di pasar global, terutama di Asia dan Eropa.

Sementara itu, investasi bisnis tetap kuat, khususnya di sektor teknologi dan infrastruktur digital termasuk investasi dalam kecerdasan buatan (AI) dan pusat data yang terus berkembang meskipun investasi sektor perumahan dan struktur fisik mengalami perlambatan.

Namun, beberapa ahli menyoroti bahwa pertumbuhan yang tampak kuat dimungkinkan sebagian karena menurunnya impor barang, yang secara teknis meningkatkan kontribusi neto ekspor dalam perhitungan PDB.

  1. Tantangan Inflasi dan Kebijakan Moneter

Meskipun pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraan, tekanan inflasi masih ada. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ukuran inflasi yang dipantau ketat oleh Federal Reserve, berada di atas target 2% dengan laju sekitar 2,8–2,9% dalam periode yang sama.

Angka ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi telah turun dari tingkat puncaknya di awal dekade, tekanan harga tetap signifikan, terutama di sektor‑sektor layanan dan kesehatan.

Akibatnya, pelaku pasar kini memperkirakan bahwa Fed mungkin akan lebih berhati‑hati dalam menurunkan suku bunga di tahun 2026, atau bahkan mempertahankan suku bunga acuan lebih tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya, guna menahan risiko kenaikan kembali inflasi.

  1. Reaksi Pasar dan Kebijakan Pemerintah

Pasar saham merespons positif angka pertumbuhan ini. Indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq menunjukkan reli setelah rilis data, diikuti oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS, mencerminkan optimisme investor terhadap masa depan ekonomi AS.

Namun, komentar dari beberapa politisi dan pejabat pemerintahan menimbulkan perdebatan. Presiden Donald Trump dengan bangga mengaitkan angka pertumbuhan tersebut dengan kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahan saat ini, menyebutnya sebagai bukti keberhasilan strategi ekonomi nasional meskipun banyak ekonom tidak sepenuhnya setuju bahwa tarif menjadi faktor utama.

Selain itu, ada peringatan dari ekonom independen bahwa headline 4,3% mungkin menutupi dinamika yang tidak merata, seperti perbedaan besar antara pengeluaran oleh kelompok pendapatan tinggi dan kenyataan ekonomi bagi rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah.

  1. Outlook 2026: Antara Optimisme dan Kekhawatiran

Melihat ke depan, sejumlah ekonom optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi AS masih berlanjut, didukung oleh investasi teknologi yang kuat serta permintaan konsumen yang masih tegar.

Namun, risiko tetap ada terutama jika inflasi kembali menguat, pasar tenaga kerja melemah lebih jauh, atau isu geopolitik meredam ekspor dan investasi global. Efek dari shutdown pemerintah, yang diperkirakan dapat mengurangi pertumbuhan kuartal IV, juga menjadi faktor ketidakpastian besar.