CERMAT KITA – Nilai tukar Rupiah kembali melemah terhadap Dolar Amerika di akhir perdagangan pekan ini, bahkan sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, memicu perhatian pelaku pasar dan media. Di tengah gejolak ini, Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan ia memahami faktor penyebab tekanan tersebut dan mengaku tahu cara memperbaikinya dalam waktu singkat hanya dua hari tetapi dengan catatan penting: ia bukan Bank Sentral yang punya kewenangan utama dalam stabilisasi nilai tukar.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (20 Januari 2026). Ia menegaskan bahwa pelemahan Rupiah saat ini belum berdampak besar terhadap perekonomian secara keseluruhan, dan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun nilai tukar melemah.
“Saya tahu alasannya kenapa Rupiah melemah dan cara memperbaikinya dua hari, semalam dua malam selesai itu. Tapi saya bukan Bank Sentral,” kata Purbaya, seraya mengarahkan pertanyaan lebih jauh kepada Bank Indonesia (BI), yang memiliki kewenangan penuh atas kebijakan nilai tukar dan moneter.
Arah Fundamental Ekonomi yang Berlawanan dengan Kurs
Purbaya menegaskan bahwa pelemahan Rupiah tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini, yang justru menunjukkan pertumbuhan dan perbaikan. Menurutnya, indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi domestik, arus modal asing, dan kinerja pasar modal tidak mencerminkan pelemahan mata uang secara struktural.
Sebagai contoh, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatat rekor tertinggi, menandakan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dalam negeri meskipun Rupiah terus tertekan. Hal inilah yang menurut Purbaya membuat dinamika nilai tukar menjadi “aneh” dalam konteks fundamental tersebut.
“Itu kenapa saya bilang, Anda tanya ke Bank Sentral apa yang terjadi. Kalau saya jelaskan terlalu jauh, nanti bisa menimbulkan interpretasi yang tidak semestinya,” tambahnya.
Besarnya Pelemahan dan Dampaknya
Data perdagangan menunjukkan Rupiah memang cenderung melemah terhadap Dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Kurs spot sempat berada di sekitar Rp16.955–Rp16.985 per USD, lebih lemah dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Namun Purbaya menilai persentase pelemahan tersebut (diperkirakan sekitar 2–3% secara year-to-date) masih berada dalam ambang yang dapat dikendalikan, termasuk bagi sektor usaha seperti para importir, yang mulai merasakan efek dari kurs yang lebih tinggi tersebut.
“Saya pikir dampaknya minimal. Kalau ada kenaikan 2–3 persen, masih bisa dikendalikan,” ujar Purbaya.
Selain itu, dari sisi fiskal, ia memastikan subsidi energi tetap terkendali karena pergerakan nilai tukar dan harga minyak global masih berada di dalam asumsi APBN 2026.
Hubungan dengan Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
Pernyataan Purbaya langsung mengarahkan sorotan pada peran Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, yang memiliki mandat utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi melalui instrumen kebijakan seperti suku bunga dan intervensi pasar valuta asing.
Observer melihat bahwa pernyataan Purbaya justru menekankan batas kewenangannya. Ia berulang kali mendorong pertanyaan penyebab pelemahan kepada Bank Indonesia, seraya menegaskan bahwa fungsi stabilisasi kurs adalah ranah BI.
Sementara itu, sejumlah laporan internasional menyebut Rupiah sempat mencapai level terendahnya dalam beberapa waktu terakhir, menarik perhatian investor global, terutama di tengah isu independensi Bank Indonesia dan kebijakan fiskal nasional.
Dalam konteks tersebut, pemerintah juga telah menegaskan komitmen untuk menjaga independensi Bank Indonesia agar tidak dipengaruhi langsung oleh kebutuhan pembiayaan anggaran atau program fiskal tertentu.
Tanggapan Pasar dan Investor
Melemahnya Rupiah di pasar spot telah mencuri perhatian pelaku pasar. Walaupun fundamental ekonomi Indonesia seperti surplus perdagangan dan permintaan domestik tetap positif menjadi faktor penyangga, ketidakpastian global dan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter tetap menjadi faktor tekanan.
Para analis melihat bahwa pelemahan ini juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global, termasuk permintaan terhadap aset safe haven seperti Dolar AS, serta sentimen geopolitik dan perbedaan suku bunga antara AS dan Indonesia.
