Cermat Kita – Dalam dinamika pembangunan bangsa, kita sering mendengar istilah “pemerataan”. Kata ini tidak sekadar menjadi jargon politik atau deretan poin dalam dokumen rencana pembangunan jangka panjang. Pemerataan adalah denyut nadi dari stabilitas sebuah bangsa. Jika kita membedah realitas sosial hari ini, kita akan sampai pada satu titik kesimpulan yang krusial: kita harus memilih untuk melakukan pemerataan sekarang, atau kita akan terpaksa menelan pil pahit “merana selamanya” di masa depan.
Mengapa Pemerataan Adalah Keharusan
Ketimpangan bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Ia adalah akar dari berbagai persoalan pelik, mulai dari kecemburuan sosial, kriminalitas, hingga hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi negara. Ketika segelintir kelompok menikmati kue pembangunan sementara jutaan lainnya harus berjuang hanya untuk sekadar menyambung hidup, saat itulah benih-benih disintegrasi mulai tumbuh.
Pemerataan akses, bukan sekadar pembagian bantuan langsung, adalah kunci. Akses terhadap pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang layak, serta peluang ekonomi yang adil adalah hak dasar. Ketika seorang anak di pelosok negeri memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan setara dengan anak di ibu kota, kita sedang berinvestasi pada masa depan yang lebih kokoh. Sebaliknya, jika kita membiarkan kesenjangan ini terus melebar, kita sebenarnya sedang memupuk bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Bahaya dari “Nanti Saja”
Sikap menunda-nunda pemerataan dengan alasan “fokus pada pertumbuhan ekonomi terlebih dahulu” adalah jebakan klasik. Seringkali, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dibarengi pemerataan hanya akan menciptakan konsentrasi kekayaan pada segelintir orang (elite capture). Pertumbuhan semacam ini tidak bersifat inklusif dan rapuh.
Negara yang gagal memeratakan kemajuan akan terjebak dalam lingkaran setan. Kelompok yang terpinggirkan akan kehilangan akses untuk meningkatkan kapasitas diri mereka, yang pada gilirannya akan menurunkan produktivitas nasional. Jika produktivitas rendah, ekonomi melambat. Ketika ekonomi melambat, anggaran untuk pemerataan semakin minim. Itulah yang disebut “merana selamanya”—sebuah siklus kemiskinan struktural yang sulit diputus jika tidak ada keberanian untuk melakukan koreksi kebijakan secara drastis.
Konkretisasi Dalam Tindakan
Apa yang harus dilakukan? Pertama, transformasi pendidikan. Kurikulum harus relevan dengan tantangan zaman di setiap daerah, bukan sekadar meniru pola pusat. Kedua, digitalisasi yang inklusif. Internet bukan lagi kemewahan, melainkan infrastruktur dasar untuk mengakses pasar global dan pengetahuan. Dengan akses digital yang merata, batasan geografis bisa dipangkas, memungkinkan potensi di daerah terpencil untuk terhubung langsung dengan pusat pertumbuhan.
Ketiga, keberpihakan pada sektor informal dan usaha kecil. Seringkali, pemerataan justru terjadi di akar rumput. Mempermudah regulasi, memberikan akses modal yang murah, dan membuka akses pasar bagi UMKM adalah cara paling nyata untuk menyebarkan kesejahteraan secara luas.
Pilihan Di Tangan Kita
Pemerataan adalah pilihan sadar. Ini adalah soal kemauan politik (political will) dan empati kolektif. Kita harus berhenti berpikir bahwa kemajuan satu daerah harus mengorbankan yang lain. Sebaliknya, kemajuan yang merata akan menciptakan pasar domestik yang lebih kuat dan tahan banting terhadap guncangan eksternal.
Jika kita memilih untuk menunda, kita memilih untuk membiarkan jurang pemisah semakin dalam. Kita memilih untuk membiarkan potensi jutaan talenta terbuang sia-sia hanya karena mereka lahir di tempat yang salah. Hal itu tentu adalah sebuah kerugian nasional yang tidak termaafkan.
Mari kita sadari bahwa stabilitas jangka panjang tidak bisa dibangun di atas fondasi yang retak. Kita tidak bisa mengharapkan kedamaian dan kesejahteraan jika sebagian warga negara merasa tidak memiliki andil dalam kemajuan bangsanya sendiri. Pilihannya sangat jelas: bergerak sekarang untuk menciptakan sistem yang merata, atau bersiap menghadapi konsekuensi jangka panjang berupa krisis sosial yang akan membuat kita semua merana selamanya.
