CERMAT KITA – Pemandangan jalanan yang lengang di ibu kota selama sepekan terakhir resmi berakhir. Pada Senin, 5 Januari 2026, Jakarta kembali ke ritme aslinya: kemacetan panjang yang menghiasi hampir seluruh ruas jalan protokol dan jalur penghubung wilayah penyangga. Berakhirnya masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), dibarengi dengan hari pertama masuk sekolah semester genap, menjadi pemicu utama melonjaknya volume kendaraan secara drastis.
Berdasarkan pantauan di lapangan sejak pukul 06.30 WIB, titik-titik kemacetan klasik di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur kembali menunjukkan kepadatan yang signifikan. Para pekerja yang mulai kembali ke kantor dan orang tua yang mengantar anak ke sekolah tampak memadati badan jalan, menciptakan antrean kendaraan yang mengular hingga beberapa kilometer.
Titik Kepadatan Utama: Gatsu dan Simatupang Jadi Pusat Kemacetan
Salah satu titik terparah terpantau di ruas Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Jakarta Selatan. Kepadatan mulai terasa dari arah Cawang menuju Kuningan. Di sekitar kawasan Pancoran, kendaraan roda empat dan roda dua hanya mampu merayap dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam. Turunan flyover Pancoran menuju perempatan Kuningan menjadi titik hambatan utama akibat pertemuan arus kendaraan dari arah Tebet dan Pasar Minggu.
“Sudah kembali ke ‘Jakarta yang asli’. Tadi dari arah Bekasi biasanya lancar selama liburan, pagi ini di Halim sudah mulai tersendat. Sampai di Pancoran benar-benar terkunci,” ujar Advan (32), salah seorang karyawan swasta yang ditemui di sekitar Kuningan.
Tak jauh berbeda, kawasan Jakarta Selatan lainnya seperti Jalan TB Simatupang juga mengalami kondisi serupa. Antrean panjang kendaraan terlihat mulai dari kawasan Tanjung Barat hingga Cilandak. Volume kendaraan dari arah Bogor dan Depok yang masuk melalui jalur ini membuat lampu merah di persimpangan Fatmawati dan Kartini mengalami penumpukan luar biasa. Suara klakson yang bersahutan menjadi latar belakang pagi pertama di tahun 2026 ini.
Pemicu Ganda: Arus Balik dan Hari Pertama Sekolah
PT Jasa Marga mencatat adanya lonjakan arus balik yang signifikan sejak Minggu malam (4/1). Tercatat lebih dari 500.000 kendaraan kembali ke wilayah Jabodetabek melalui gerbang tol utama seperti Cikampek Utama dan Kalihurip Utama. Puncak arus balik yang terjadi pada 2-4 Januari 2026 membuat beban jalan di dalam kota mencapai titik jenuh pada Senin pagi.
Selain arus balik, faktor dominan lainnya adalah dimulainya kembali aktivitas pendidikan. Bus sekolah, jemputan, hingga kendaraan pribadi orang tua siswa menambah kepadatan di jalan-jalan lingkungan yang bermuara ke jalur utama. Kehadiran petugas kepolisian dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya di lapangan tampak sibuk melakukan pengaturan manual di titik-titik persimpangan untuk mengurai simpul kemacetan.
AKP Heri Priyatno, Perwira Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, mengonfirmasi bahwa peningkatan volume kendaraan terjadi merata di hampir seluruh akses masuk Jakarta.
“Kepadatan dipicu oleh aktivitas sekolah dan perkantoran yang kembali normal secara serentak. Kami juga mencatat adanya beberapa kendala teknis seperti gangguan kendaraan (mogok) di ruas Tol Dalam Kota yang sempat menghambat arus menuju Semanggi,” jelasnya.
Kondisi Tol Dalam Kota: Padat Sejak Dini Hari
Ruas Tol Dalam Kota (Dalkot) dari arah Cawang menuju Senayan tidak luput dari kemacetan. Informasi dari akun resmi Jasa Marga menyebutkan bahwa kepadatan mulai terjadi sejak KM 00 Cawang hingga KM 02 Tebet. Kepadatan berlanjut di KM 04 Pancoran hingga KM 05 Kuningan.
Untuk mengantisipasi penumpukan yang lebih parah, pihak kepolisian sempat memberlakukan skema contraflow secara situasional di beberapa ruas jalan tol guna memberi ruang bagi kendaraan yang menuju pusat kota. Namun, tingginya rasio kendaraan dibandingkan kapasitas jalan membuat langkah ini hanya mampu mengurangi sedikit beban kemacetan.
Harapan Warga di Awal Tahun
Kembalinya kemacetan ini memicu beragam reaksi dari warga. Bagi sebagian orang, kemacetan adalah pertanda bahwa roda ekonomi Jakarta telah kembali berputar penuh. Namun, bagi pengguna jalan harian, ini adalah tantangan yang harus kembali dihadapi setiap hari.
“Harapannya di tahun 2026 ini transportasi publik bisa lebih terintegrasi lagi. Capek juga kalau setiap habis liburan langsung disambut macet parah seperti ini. Semoga ada solusi jangka panjang untuk mengurangi volume kendaraan pribadi,” kata Ismi, seorang warga yang menetap di Jakarta Selatan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri melalui Dinas Perhubungan terus mengimbau masyarakat untuk beralih ke moda transportasi umum seperti MRT, LRT, dan TransJakarta guna meminimalisir kepadatan di jalan raya. Mengingat cuaca di awal Januari yang masih sering diguyur hujan, warga juga diminta waspada terhadap potensi genangan yang bisa memperparah kondisi lalu lintas.
