Dunia Ogah Berbagi Teknologi Logam Tanah Jarang ke RI

Dunia Ogah Berbagi Teknologi Logam Tanah Jarang ke RI

Cermat Kita – Badan Industri Mineral (BIM) buka-bukaan bahwa Indonesia sekarang sedang menghadapi tantangan dalam mengembangkan teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ). Saking strategisnya LTJ, negara-negara maju pemilik teknologi cenderung menutup diri dan enggan melakukan transfer teknologi ke Indonesia karena lebih memilih untuk membeli mentahnya saja.

Kepala BIM menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan berbagai negara untuk menjajaki kerja sama pengembangan LTJ di Tanah Air. Namun, mayoritas negara tersebut menolak untuk berbagi pengembangan teknologi maupun investasi pengolahan di Indonesia. Hal itu tidak lain untuk mendapatkan nilai tambah di negara mereka sendiri.

Mengapa Dunia Ogah Berbagi Teknologi Logam Tanah Jarang ke RI

Indonesia sedang berada di persimpangan jalan industri yang krusial. Setelah sukses dengan hilirisasi nikel, pemerintah kini membidik Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) sebagai “harta karun” berikutnya. Namun, ambisi ini menemui jalan buntu yang kontras dengan nikel: dunia internasional, terutama negara-negara maju dan pemegang paten, tampak sangat enggan berbagi teknologi pengolahannya kepada Indonesia.

Keengganan dunia berbagi teknologi LTJ bukan tanpa alasan. Saat ini, rantai pasok global dikuasai hampir secara absolut oleh Tiongkok. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Australia pun sedang berjuang keras mengejar ketertinggalan mereka. Dalam konstelasi ini, teknologi pemurnian LTJ dianggap sebagai senjata geopolitik, bukan sekadar komoditas dagang.

Logam tanah jarang adalah komponen vital bagi industri masa depan, mulai dari magnet permanen untuk motor listrik (EV), turbin angin, hingga sistem pemandu rudal canggih. Membagikan teknologi ini kepada Indonesia berarti memberikan kunci kemandirian industri strategis. Bagi negara pemilik teknologi, lebih menguntungkan untuk membeli bahan mentah dari Indonesia daripada membantu Indonesia menjadi pesaing baru di pasar produk jadi.

Kerumitan Teknis Yang Menjadi Penghalang

Berbeda dengan nikel yang proses ekstraksinya relatif sudah mapan secara global, LTJ memiliki tingkat kesulitan teknis yang eksponensial. Butiran logam ini biasanya ditemukan dalam konsentrasi rendah dan tercampur dengan unsur radioaktif seperti torium dan uranium.

  • Pemisahan Unsur: Memisahkan 17 unsur LTJ satu sama lain memerlukan proses kimiawi yang sangat panjang dan spesifik.
  • Standar Lingkungan: Teknologi untuk mengolah limbah radioaktif hasil sampingan LTJ sangat mahal dan dijaga ketat hak patennya.
  • Efisiensi Skala: Negara maju enggan mentransfer teknologi karena mereka ingin memastikan bahwa pusat nilai tambah tetap berada di teritorial mereka untuk menjaga efisiensi ekonomi mereka sendiri.

Mentalitas Raw Material vs Value Added

Selama puluhan tahun, Indonesia dipandang oleh dunia internasional hanya sebagai penyedia bahan mentah. Ketika Indonesia mulai menutup keran ekspor bijih mentah untuk memaksa transfer teknologi, negara-negara konsumen bereaksi keras. Mereka lebih memilih membawa sengketa ke WTO daripada membangun pabrik pemurnian di tanah air.

Dunia “ogah” berbagi karena mereka melihat Indonesia memiliki potensi cadangan yang besar, namun belum memiliki ekosistem riset yang kuat. Tanpa daya tawar berupa penguasaan teknologi dasar secara mandiri, Indonesia terus ditekan untuk tetap berada di level hulu. Para pemegang teknologi merasa tidak memiliki insentif untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global yang justru bisa mengancam dominasi mereka.

Jalan Terjal Kemandirian

Kenyataan pahit ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah. Bergantung pada investasi asing dengan harapan adanya transfer teknologi otomatis adalah strategi yang berisiko. Sejarah menunjukkan bahwa teknologi strategis jarang sekali “diberikan”; ia harus “diciptakan” atau “diakuisisi” melalui riset yang masif.

Indonesia perlu memperkuat peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perguruan tinggi untuk memecahkan kode pemisahan LTJ secara mandiri. Jika kita terus menunggu kesediaan dunia untuk berbagi, kita hanya akan berakhir sebagai penonton dalam revolusi industri hijau global, meski kaki kita berpijak di atas tanah yang kaya akan mineral masa depan tersebut.