CERMAT KITA – Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sektor manufaktur logam Indonesia menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Berdasarkan laporan terbaru yang dihimpun hingga awal Januari 2026, besi dan baja (kode HS 72) resmi mengukuhkan posisinya sebagai komoditas ekspor nonmigas terbesar Indonesia ke China. Fenomena ini sekaligus menandai babak baru dalam struktur ekonomi nasional yang mulai bergeser dari ketergantungan pada bahan mentah menuju produk hasil hilirisasi bernilai tambah tinggi.
Transformasi Struktur Ekspor
Selama beberapa dekade, Indonesia sangat bergantung pada komoditas primer seperti batubara dan minyak sawit mentah (CPO) untuk mengisi pundi-pundi devisa dari Tiongkok. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perubahan drastis dalam dua tahun terakhir. Sejak masifnya investasi pada smelter nikel dan pabrik pengolahan baja di Indonesia Timur, porsi ekspor besi dan baja melonjak tajam.
Hingga penutupan tahun 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai akumulasi US$ 58,24 miliar. Dari total tersebut, besi dan baja menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 28,04%. Angka ini jauh melampaui kontribusi batubara yang selama ini menjadi primadona. Peningkatan ini tidak hanya terjadi secara nilai nominal, tetapi juga secara volume, yang mencerminkan kapasitas produksi dalam negeri yang terus berekspansi.
Mengapa China Memilih Baja Indonesia?
Dominasi besi dan baja Indonesia di pasar China bukan tanpa alasan. Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong tren ini:
- Hilirisasi Nikel: Sebagian besar besi dan baja yang diekspor adalah produk turunan nikel, seperti ferro-nickel (FeNi) dan stainless steel dalam bentuk slab atau coil. Indonesia saat ini memiliki biaya produksi baja tahan karat terendah di dunia berkat integrasi vertikal antara tambang nikel dan pabrik pengolahan di kawasan industri seperti Morowali dan Weda Bay.
- Permintaan Industri Manufaktur: Meskipun sektor properti di China mengalami perlambatan, industri manufaktur mereka terutama otomotif, peralatan rumah tangga, dan energi terbarukan tetap membutuhkan suplai baja berkualitas tinggi dalam jumlah besar.
- Daya Saing Harga: Efisiensi logistik dari pelabuhan-pelabuhan khusus di kawasan industri Indonesia Timur langsung menuju pelabuhan utama di China memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan eksportir dari Amerika Selatan atau Afrika.
Analisis Data Perdagangan Bilateral
Jika kita membedah lebih dalam, kenaikan ekspor besi dan baja ini menjadi “penyelamat” neraca perdagangan Indonesia. Pada periode Januari-November 2025, ekspor besi dan baja mengalami pertumbuhan sebesar 12,80% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
| Sektor Utama Ekspor ke China | Pangsa Pasar (%) | Tren Performa |
| Besi dan Baja (HS 72) | 28,04% | Meningkat Pesat |
| Bahan Bakar Mineral | 15,73% | Melambat |
| Nikel dan Barang Daripadanya | 11,66% | Stabil |
| Lemak & Minyak Nabati (CPO) | 9,80% | Fluktuatif |
Meskipun performa ekspor sangat kuat, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa defisit perdagangan dengan China sebesar US$ 19,28 miliar per November 2025. Hal ini dikarenakan Indonesia juga mengimpor barang modal dan elektronik dalam jumlah besar dari Tiongkok. Namun, pertumbuhan ekspor baja yang eksponensial membantu menekan angka defisit tersebut agar tidak membengkak lebih jauh.
Dampak Terhadap Ekonomi Nasional
Keberhasilan ini memberikan dampak domino bagi ekonomi domestik. Pertama, penguatan kurs Rupiah yang lebih stabil berkat aliran masuk devisa dari sektor logam. Kedua, terciptanya lapangan kerja di sektor industri pengolahan yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal di wilayah Sulawesi dan Maluku.
Menteri Perdagangan dalam keterangannya baru-baru ini menyatakan bahwa fokus pemerintah di tahun 2026 adalah memperluas pasar baja tidak hanya ke China, tetapi juga memperkuat penetrasi ke pasar India dan Uni Eropa melalui perjanjian dagang yang lebih menguntungkan.
Tantangan di Tahun 2026
Meski berada di atas angin, para analis mengingatkan adanya risiko proteksionisme perdagangan. Beberapa negara mulai menerapkan pajak karbon atau hambatan tarif untuk melindungi industri baja domestik mereka. Indonesia harus terus meningkatkan standar keberlanjutan (ESG) dalam proses produksi baja agar tetap bisa bersaing di pasar global yang semakin peduli terhadap lingkungan.
