Sungai Cidurian Meluap, Banjir 2 Meter Rendam Perumahan Taman Cikande Tangerang

Sungai Cidurian Meluap, Banjir 2 Meter Rendam Perumahan Taman Cikande Tangerang

CERMAT KITA – Bencana banjir hebat kembali melanda wilayah Kabupaten Tangerang, Banten, pada pertengahan Januari 2026. Intensitas hujan yang tinggi di wilayah hulu serta meluapnya Sungai Cidurian menyebabkan ratusan rumah di Perumahan Taman Cikande, Desa Cikande, Kecamatan Jayanti, terendam air dengan ketinggian yang sangat mengkhawatirkan, yakni mencapai hingga 2 meter.

Kondisi ini memaksa ratusan kepala keluarga untuk meninggalkan hunian mereka dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman. Hingga berita ini diturunkan, air dilaporkan masih terus meluas dan belum menunjukkan tanda-tanda akan surut dalam waktu dekat.

Kronologi dan Penyebab Utama

Banjir mulai memasuki area permukiman warga sejak Minggu (11/1/2026) dini hari. Namun, puncaknya terjadi pada Selasa malam hingga Rabu siang ini, di mana debit air Sungai Cidurian meningkat drastis. Luapan sungai tersebut menjebol pertahanan tanggul setinggi satu meter yang sebelumnya dibangun untuk melindungi perumahan.

Ketua RW 03 Perumahan Taman Cikande, Fiktor Silaen, mengonfirmasi bahwa ketinggian air di wilayahnya sangat bervariasi, mulai dari 70 cm hingga titik terdalam mencapai 2 meter di area yang berdekatan dengan bantaran sungai.

“Ketinggian air sampai dua meter. Untuk update sekarang kondisi banjir ini, khusus yang di Perumahan Taman Cikande, terus meluas,” ujar Fiktor kepada media di lokasi kejadian.

Dampak Terhadap Warga

Berdasarkan data sementara dari pengurus lingkungan setempat, setidaknya terdapat 222 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak langsung oleh banjir ini. Wilayah yang paling parah terendam mencakup 10 RT di dua RW berbeda. Di RT 05 RW 03, air sudah menutupi hampir seluruh bagian rumah warga, menyisakan hanya bagian atap di beberapa titik terendah.

Warga yang terdampak kini terpaksa melakukan evakuasi mandiri. Dengan peralatan seadanya, seperti perahu darurat yang dirakit dari bambu dan galon air mineral, mereka bahu-membahu menyelamatkan barang-barang berharga serta mengevakuasi lansia dan anak-anak ke tenda pengungsian swadaya.

Salah seorang warga, Radiani (57), mengungkapkan rasa frustrasinya karena wilayah tersebut sudah tiga kali terendam banjir dalam dua minggu terakhir.

“Ini banjir kiriman. Meski di sini tidak hujan deras, kalau di hulu seperti Bogor hujan, Sungai Cidurian pasti meluap ke sini,” tuturnya.

Krisis Logistik dan Bantuan

Di tengah kondisi yang kian mendesak, warga di pengungsian mulai mengeluhkan minimnya bantuan dari pemerintah daerah. Hingga Rabu sore, masyarakat masih mengandalkan dapur umum swadaya yang didirikan secara gotong royong.

Kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh para pengungsi saat ini meliputi:

  • Bahan Makanan: Mie instan, beras, telur, dan air bersih.
  • Kesehatan: Obat-obatan untuk penyakit kulit, diare, serta vitamin.
  • Perlengkapan Bayi: Popok dan susu formula.
  • Alat Evakuasi: Perahu karet yang lebih memadai untuk menjangkau warga yang masih terjebak di dalam rumah.

“Hingga saat ini belum ada sama sekali bantuan pemerintah. Kami berharap agar segera dikirimkan kebutuhan pokok karena warga sudah tiga hari tidak bisa beraktivitas normal,” tambah Fiktor.

Upaya Pemerintah dan BPBD

Secara terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang menyatakan bahwa personel telah dikerahkan ke beberapa titik banjir di seluruh kabupaten. Selain di Kecamatan Jayanti (Taman Cikande), banjir juga dilaporkan merendam wilayah lain seperti Kecamatan Tigaraksa, Kosambi, dan Pakuhaji dengan total warga terdampak mencapai puluhan ribu jiwa di seluruh Kabupaten Tangerang.

Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan lebat masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Pihaknya berjanji akan mempercepat distribusi logistik ke titik-titik pengungsian yang sulit dijangkau.

Analisis Lingkungan

Para ahli lingkungan berpendapat bahwa banjir berulang di Tangerang tidak hanya disebabkan oleh fenomena alam, tetapi juga dipicu oleh masifnya alih fungsi lahan di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Berkurangnya area resapan air dan penyempitan badan sungai memperparah dampak luapan air saat musim penghujan tiba.

Kondisi di Perumahan Taman Cikande menjadi potret nyata tantangan mitigasi bencana di wilayah penyangga ibu kota. Warga berharap adanya solusi permanen dari pemerintah, seperti normalisasi sungai yang lebih menyeluruh atau pembangunan pompa air skala besar, agar mereka tidak terus-menerus menjadi langganan banjir setiap tahunnya.