CERMAT KITA – Indonesia sedang menghadapi salah satu tantangan iklim paling berat di penghujung tahun 2025. Rentetan bencana hidrometeorologi basah yang melanda Pulau Sumatera telah memaksa otoritas kebencanaan untuk mengambil langkah luar biasa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bekerja sama dengan BMKG, BRIN, dan TNI AU, secara resmi mengoperasikan sembilan unit pesawat untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga provinsi terdampak paling parah: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Langkah ini bukan sekadar upaya teknis, melainkan sebuah misi kemanusiaan skala besar untuk menghentikan “langit yang terus menangis” agar proses evakuasi dan pemulihan ribuan warga yang terdampak banjir serta tanah longsor dapat berjalan tanpa hambatan cuaca yang ekstrem.
Darurat Sumatera: Mengapa OMC Menjadi Harga Mati?
Sepanjang Desember 2025, wilayah Sumatera diguyur hujan dengan intensitas yang melampaui ambang batas normal. Akibatnya, banjir bandang dan tanah longsor (yang dikenal sebagai galodo di Sumatera Barat) mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang masif. Jalan lintas provinsi terputus, jembatan hancur, dan ribuan rumah terendam lumpur.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa dalam kondisi bencana seperti ini, cuaca adalah variabel yang paling sulit dikendalikan namun paling menentukan keberhasilan operasi darat.
“Kita berpacu dengan waktu. Jika hujan terus turun dengan intensitas tinggi, alat berat tidak bisa masuk, distribusi logistik terhambat, dan risiko longsor susulan tetap mengancam nyawa petugas serta warga,” ujarnya.
Pengerahan sembilan pesawat ini bertujuan untuk melakukan “penyemaian awan” (cloud seeding) menggunakan garam NaCl. Tujuannya adalah menjatuhkan hujan lebih awal di atas wilayah perairan atau laut sebelum awan-awan tersebut mencapai daratan yang sudah jenuh air (saturated).
Rincian Kekuatan dan Sebaran Armada
BNPB membagi kekuatan sembilan pesawat tersebut ke dalam tiga sektor utama berdasarkan tingkat urgensi dan luas wilayah terdampak:
- Sektor Aceh (4 Pesawat) Provinsi Aceh mendapatkan alokasi armada terbanyak karena luasnya wilayah terdampak banjir di pesisir timur dan utara. Hingga saat ini, tercatat telah dilakukan 267 sortie penerbangan penyemaian. Sebanyak 251,2 ton (251.200 kg) bahan semai telah ditaburkan ke sel-sel awan konvektif di Samudera Hindia dan Selat Malaka. Fokus utamanya adalah melindungi Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang yang menjadi titik langganan banjir.
- Sektor Sumatera Barat (3 Pesawat) Sumatera Barat memiliki topografi yang unik sekaligus berbahaya, yakni perbukitan terjal yang rawan longsor. Tiga pesawat dikerahkan untuk menjaga langit di atas Gunung Marapi dan wilayah sekitarnya agar tidak terjadi banjir lahar dingin susulan. Hingga laporan terakhir, telah dilakukan 248 sortie dengan penggunaan bahan semai mencapai 249,1 ton. Operasi di Sumbar dianggap paling menantang karena arah angin yang sering berubah-ubah di pegunungan.
- Sektor Sumatera Utara (2 Pesawat) Sumatera Utara, khususnya wilayah Karo dan Deli Serdang, mendapatkan dukungan dua pesawat. Tim telah melakukan 175 sortie dengan total bahan semai mencapai 146 ton. Fokus utama di Sumut adalah memastikan jalur logistik Medan-Berastagi dan wilayah terdampak banjir di Medan tetap kondusif untuk pembersihan material sisa bencana.
Dampak Nyata: Hari Tanpa Hujan yang Menyelamatkan
Data yang dirilis BNPB menunjukkan bahwa operasi ini membuahkan hasil signifikan. Sejak OMC dijalankan secara intensif, tercatat adanya peningkatan jumlah “hari tanpa hujan” atau hari dengan intensitas hujan ringan di titik-titik kritis.
Penurunan intensitas hujan ini secara langsung berdampak pada:
- Percepatan Evakuasi: Tim SAR gabungan dapat menyisir area yang sebelumnya terisolasi karena arus air yang deras.
- Perbaikan Infrastruktur: Alat berat bisa bekerja lebih lama untuk membersihkan material longsor di jalur-jalur utama tanpa khawatir akan adanya longsoran baru yang dipicu hujan deras.
- Distribusi Logistik: Pesawat helikopter pengirim bantuan dapat terbang lebih aman (VFR – Visual Flight Rules) untuk menjangkau desa-desa terpencil.
Tantangan dan Koordinasi Lintas Sektoral
Meskipun terlihat sukses, OMC bukannya tanpa kendala. Abdul Muhari menekankan bahwa modifikasi cuaca bukan berarti “menghilangkan hujan” secara total, melainkan mengatur waktu dan lokasinya. Terkadang, kondisi awan yang terlalu tebal atau pergerakan angin yang sangat kencang membuat pesawat tidak bisa melakukan penyemaian dengan presisi.
Oleh karena itu, BNPB terus berkoordinasi 24 jam dengan BMKG untuk memantau radar cuaca. Jika radar menunjukkan adanya pertumbuhan awan masif di laut yang bergerak menuju daratan, pesawat penyemai segera lepas landas untuk mencegat awan tersebut.
Pemerintah melalui Sekretaris Kabinet juga telah menginstruksikan agar operasi ini tidak dihentikan sampai status tanggap darurat dicabut atau kondisi cuaca menurut BMKG telah benar-benar stabil. Hal ini dilakukan demi menjamin keselamatan para pengungsi yang saat ini jumlahnya masih sangat besar di posko-posko darurat.
Harapan Menuju Pemulihan
Total bantuan logistik yang telah dikirimkan ke Sumatera mencapai lebih dari 1.300 ton, namun keberlangsungan hidup para penyintas sangat bergantung pada kondisi lingkungan mereka. Dengan terkendalinya curah hujan melalui bantuan 9 pesawat ini, proses rehabilitasi dan rekonstruksi diharapkan bisa segera dimulai pada awal tahun 2026.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari BPBD setempat. Meskipun teknologi modifikasi cuaca telah dikerahkan, kesiapsiagaan di tingkat warga tetap menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko bencana.
