Anak Muda, Waspadai Kolesterol! Gaya Hidup Makan Jadi Pemicu

Anak Muda, Waspadai Kolesterol! Gaya Hidup Makan Jadi Pemicu

CERMAT KITA – Masalah kesehatan yang selama ini sering dikaitkan dengan usia paruh baya kini semakin nyata menyerang generasi muda. Tren kenaikan kadar kolesterol tinggi di kalangan anak muda kini menjadi salah satu perhatian utama praktisi kesehatan dan pelaku industri kuliner. Fenomena ini tak bisa dianggap remeh karena gaya hidup modern yang sarat dengan makanan cepat saji, camilan olahan, hingga jam makan yang tidak teratur menjadi pemicunya.

Gaya hidup nongkrong dan kulineran tanpa sadar tingkatkan risiko

Bagi banyak anak muda, terutama di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, kegiatan nongkrong sambil mencicipi kuliner lokal maupun internasional sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Dari menu seperti nasi Padang, mie instan, hingga hidangan cepat saji, pilihan makanan anak muda seringkali didominasi oleh makanan tinggi lemak, garam, dan gula kombinasi yang berkontribusi terhadap kadar kolesterol yang tidak sehat.

Survei perilaku konsumen yang dirilis baru-baru ini menunjukkan bahwa preferensi makanan yang berlemak dan kurang mengandung serat di kalangan anak muda cukup tinggi. Habit ini diperparah oleh maraknya layanan pesan antar makanan yang membuat makanan “enak” lebih mudah diakses tanpa perlu memikirkan kandungan gizinya. Akibatnya, kolesterol tinggi kini bukan lagi masalah orang tua justru banyak kasus yang ditemukan pada usia produktif.

Tanpa gejala, tapi risiko tetap nyata

Kolesterol tinggi disebut sebagai “silent threat” atau ancaman tanpa gejala yang jelas. Banyak generasi muda yang baru menyadari kadar kolesterolnya ketika melakukan pemeriksaan kesehatan rutin atau setelah mengalami kondisi serius seperti nyeri dada atau komplikasi kardiovaskular. Hal ini sesuai dengan pernyataan dokter jantung yang menyebut bahwa tren peningkatan kadar kolesterol di usia muda merupakan sinyal bahaya serius.

Pakar kesehatan menekankan bahwa kolesterol tinggi berbahaya karena dapat memicu penumpukan plak pada dinding arteri (aterosklerosis) yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke di kemudian hari. Penelitian juga menunjukkan bahwa risiko aterosklerosis dapat mulai terbentuk lebih awal jika kolesterol tidak dikontrol sejak dini.

Faktor gaya hidup modern sebagai pemicu utama

Ahli kesehatan umum dan jantung sepakat bahwa gaya hidup modern menjadi pemicu utama meningkatnya kolesterol pada anak muda. Pola makan tinggi lemak jenuh dan trans (yang banyak terdapat dalam makanan olahan cepat saji), konsumsi gula berlebih, serta pola makan yang tidak teratur berkontribusi besar terhadap peningkatan kadar LDL atau kolesterol “jahat”.

Selain dari makanan itu sendiri, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kebiasaan makan yang tidak sehat seperti melewatkan sarapan pagi atau makan larut malam dapat mengganggu metabolisme tubuh dan meningkatkan lipid darah. Misalnya, kebiasaan melewatkan sarapan dapat memicu pola makan berlebihan di siang atau malam hari yang biasanya diisi oleh makanan tak sehat, sehingga memperburuk profil kolesterol seseorang.

Kampanye kesehatan kreatif untuk menarik perhatian anak muda

Menanggapi fenomena ini, sejumlah pihak mulai mengadakan kampanye kesehatan yang dirancang menarik bagi generasi muda. Salah satunya adalah inisiatif Kumpul PARPOL (Para Pemuda No Kolesterol) yang digagas oleh Kalbe Nutritionals melalui produk Nutrive Benecol. Program ini memadukan kegiatan santai seperti musik DJ dan suasana nongkrong yang familiar bagi anak muda dengan pesan penting tentang kesadaran kesehatan jantung dan kolesterol.

Pendekatan ini dipilih untuk membuat pesan kesehatan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda, tanpa terkesan menggurui atau membosankan. Kreator konten dan influencer juga dilibatkan untuk memperluas jangkauan pesan ini ke khalayak digital yang lebih luas.

Saran pakar: ubah pola hidup sebelum terlambat

Pakar kesehatan mendorong generasi muda untuk mulai memperhatikan gaya hidup sehat sejak dini. Beberapa langkah sederhana yang disarankan termasuk mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan makanan olahan, memperbanyak serat dari sayur, buah, dan biji-bijian, serta aktif secara fisik minimal 30 menit per hari.

Selain itu, cek kesehatan rutin termasuk pemeriksaan kolesterol dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga kolesterol tinggi, obesitas, atau diabetes. Penanganan sejak dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius di masa depan.