CERMAT KITA – Industri telekomunikasi di Provinsi Aceh menunjukkan resiliensi yang luar biasa di penghujung tahun 2025. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis pada Selasa (30/12/2025), Telkomsel secara resmi mengumumkan bahwa 94% dari total infrastruktur jaringan mereka di Aceh telah pulih sepenuhnya. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam upaya normalisasi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pasca gangguan alam yang melanda wilayah tersebut.
Meskipun angka 94% menunjukkan keberhasilan besar, sisa 6% jaringan yang masih terkendala menjadi fokus utama tim Network Operations Telkomsel. Kendala yang dihadapi bukan lagi soal ketersediaan perangkat, melainkan tantangan ekstrem terkait akses logistik dan suplai energi di wilayah pedalaman.
Strategi Pemulihan Bertahap
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menjelaskan bahwa proses pemulihan dilakukan dengan sistem prioritas. Pada fase pertama, tim fokus pada area fasilitas publik seperti rumah sakit, kantor pemerintahan, dan pusat komando penanggulangan bencana. Setelah jalur utama stabil, tim mulai merambah ke wilayah pemukiman padat penduduk hingga akhirnya ke daerah terpencil.
“Pemulihan jaringan Telkomsel di Aceh terus menunjukkan progres positif setiap harinya. Kami sangat mengapresiasi kerja keras tim di lapangan yang harus berhadapan dengan cuaca yang tidak menentu. Hingga saat ini, sebagian besar site telah kembali beroperasi normal untuk melayani pelanggan,” ungkap Nugroho dalam konferensi pers virtual.
Salah satu kunci keberhasilan pemulihan yang cepat ini adalah penggunaan teknologi mobile BTS (Combat) yang dikerahkan ke titik-titik krusial yang infrastruktur permanennya mengalami kerusakan fisik berat. Dengan unit Combat, sinyal dapat dipulihkan dalam waktu singkat tanpa harus menunggu pembangunan ulang menara secara permanen.
Analisis Kendala: Mengapa Belum 100%?
Terdapat alasan teknis dan non-teknis mengapa sisa 6% jaringan masih mengalami gangguan. Sebagian besar site yang belum aktif berada di wilayah dataran tinggi Aceh, seperti Aceh Tengah, Gayo Lues, dan sebagian Bener Meriah.
- Aksesibilitas Lokasi: Beberapa titik BTS terletak di puncak perbukitan yang akses jalannya terputus total akibat tanah longsor. Personel teknis tidak dapat membawa perangkat pengganti atau bahan bakar menggunakan kendaraan standar, bahkan untuk kendaraan penggerak empat roda (4WD) sekalipun.
- Krisis Energi: Telekomunikasi sangat bergantung pada listrik. Di beberapa wilayah pelosok, jaringan transmisi PLN masih dalam tahap perbaikan. Alhasil, BTS harus dihidupkan menggunakan genset portabel. Namun, distribusi bahan bakar ke lokasi BTS tersebut menjadi kendala utama karena medan yang berlumpur dan curam.
- Kerusakan Serat Optik: Selain menara BTS, jaringan tulang punggung (backbone) berupa kabel fiber optik di bawah tanah mengalami putus di beberapa segmen akibat pergeseran tanah. Proses penyambungan kembali memerlukan waktu karena tim harus memastikan kondisi tanah sudah stabil agar kabel tidak kembali putus.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kembalinya sinyal di 94% wilayah Aceh membawa dampak instan bagi masyarakat. Aktivitas perbankan digital, layanan logistik, hingga UMKM yang bergantung pada platform e-commerce mulai menggeliat kembali. Di sektor pendidikan, para pelajar kembali bisa mengakses materi daring, yang sempat terhenti total selama beberapa minggu.
Sebagai bentuk solidaritas, Telkomsel juga menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR). Mereka membuka posko-posko “Telkomsel Siaga” yang menyediakan layanan telepon gratis, tempat pengisian daya baterai (charging station), dan edukasi penggunaan layanan digital di masa darurat.
“Kami menyadari bahwa di saat seperti ini, ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan penyambung nyawa untuk meminta bantuan atau memberi kabar kepada kerabat,” tambah Nugroho.
Langkah Menuju Pemulihan Total (100%)
Target Telkomsel adalah mencapai pemulihan 100% pada minggu pertama Januari 2026. Untuk mencapai target ini, perusahaan telah melakukan beberapa langkah strategis:
- Kolaborasi dengan TNI/Polri: Meminta bantuan pengawalan dan armada udara (helikopter) untuk mendistribusikan perangkat kecil dan bahan bakar ke lokasi yang benar-benar tidak bisa dijangkau jalur darat.
- Optimalisasi Satelit: Di wilayah yang kabel optiknya rusak parah, Telkomsel menggunakan solusi transmisi satelit (VSAT) sebagai jembatan komunikasi sementara agar layanan data tetap tersedia meski dengan kecepatan yang disesuaikan.
- Penguatan Infrastruktur: Belajar dari kejadian ini, Telkomsel berencana memperkuat struktur pondasi BTS di wilayah rawan longsor serta menambah kapasitas baterai cadangan agar BTS mampu bertahan lebih lama saat listrik padam.
