CERMAT KITA – Peta geopolitik di kawasan Tanduk Afrika mengalami pergeseran drastis pada awal tahun 2026. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, secara resmi melakukan kunjungan diplomatik pertama ke Somaliland pada Selasa, 6 Januari 2026. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut langsung setelah Israel menjadi negara pertama di dunia (anggota PBB) yang secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat pada akhir Desember 2025.
Langkah berani Tel Aviv ini memicu gelombang reaksi diplomatik di seluruh dunia, terutama dari pemerintah federal Somalia yang menganggap wilayah tersebut sebagai bagian integral dari kedaulatannya.
Misi Diplomatik di Tengah Penjagaan Ketat
Gideon Sa’ar mendarat di ibu kota Somaliland, Hargeisa, dengan pengamanan yang sangat ketat. Kedatangannya disambut oleh para pejabat tinggi Somaliland sebelum ia bertolak ke istana kepresidenan untuk bertemu dengan Presiden Abdirahman Mohamed Abdullahi (Irro).
Dalam pernyataan bersama yang dirilis usai pertemuan, Sa’ar menegaskan bahwa pengakuan Israel terhadap Somaliland adalah keputusan yang “tidak dapat ditarik kembali.” Ia memuji Somaliland sebagai “benteng demokrasi yang stabil” di kawasan yang sering bergejolak.
“Somaliland bukan sekadar entitas virtual. Ini adalah negara yang telah berfungsi secara penuh selama lebih dari 30 tahun dengan transisi kekuasaan yang damai dan institusi demokrasi yang kuat,” ujar Sa’ar.
Kerja Sama Strategis dan Pangkalan Militer
Kunjungan ini tidak hanya bersifat seremonial. Kedua belah pihak dilaporkan telah menyepakati beberapa poin penting:
- Pembukaan Kedutaan Besar: Presiden Abdullahi mengonfirmasi bahwa Somaliland akan segera membuka kedutaan di Israel, sementara Israel berencana menempatkan misi diplomatik permanen di Hargeisa.
- Keamanan dan Pertahanan: Terdapat laporan mengenai kerja sama intelijen dan potensi pendirian fasilitas keamanan Israel di sepanjang pantai Teluk Aden yang strategis.
- Kesepakatan Abraham (Abraham Accords): Somaliland menyatakan kesiapannya untuk bergabung dalam perjanjian normalisasi ini, memperluas pengaruh Israel ke wilayah Afrika Timur.
Reaksi Keras Somalia dan Dunia Internasional
Pemerintah Federal Somalia di Mogadishu mengecam keras kunjungan tersebut, menyebutnya sebagai “provokasi terang-terangan” dan “pelanggaran kedaulatan.” Kementerian Luar Negeri Somalia menyebut kehadiran Sa’ar di Hargeisa sebagai penyusupan ilegal.
Negara-negara seperti Turki, Mesir, dan Uni Afrika juga menyuarakan kekhawatiran mereka. Uni Afrika menyatakan bahwa pengakuan sepihak oleh Israel dapat merusak upaya perdamaian di kawasan dan memicu gerakan separatis lainnya di benua tersebut. Sementara itu, Uni Eropa menegaskan tetap menghormati integritas wilayah Somalia sesuai hukum internasional.
Kontroversi Isu Pemindahan Warga Palestina
Di tengah kemesraan diplomatik ini, muncul isu sensitif yang dilontarkan oleh Presiden Somalia, Hasan Sheikh Mohamud. Ia menuduh adanya rencana rahasia antara Israel dan Somaliland untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat penampungan bagi warga Palestina dari Gaza. Namun, otoritas Somaliland dengan tegas membantah klaim tersebut, menyebutnya sebagai propaganda untuk menjatuhkan kredibilitas mereka di mata dunia Muslim.
Mengapa Sekarang?
Para analis menilai langkah Israel ini merupakan bagian dari strategi “aliansi periferi” untuk mencari mitra strategis di luar lingkaran tradisional Timur Tengah. Dengan posisi Somaliland yang menghadap ke Jalur Pelayaran Laut Merah, Israel mendapatkan akses strategis untuk memantau aktivitas maritim dan membendung pengaruh aktor regional lainnya seperti Iran di Tanduk Afrika.
