CERMAT KITA – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Jawa Timur pada awal tahun 2026 mulai memicu serangkaian bencana alam. Salah satu yang paling berdampak adalah tanah longsor yang terjadi di jalur provinsi penghubung antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Kediri. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu sore (3/1/2026) ini sempat memutus akses transportasi utama bagi warga maupun distribusi logistik antar-kota.
Kronologi dan Kondisi Geografis
Bencana ini berpusat di wilayah Dusun Siatri, Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Kawasan ini memang dikenal memiliki topografi perbukitan curam dengan struktur tanah yang cukup labil. Sekitar pukul 15.30 WIB, setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi selama lebih dari tiga jam, sebuah tebing setinggi kurang lebih 15 meter ambrol.
Material longsor yang terdiri dari tanah merah, bongkahan batu besar, hingga pohon-pohon tumbang meluncur deras ke bawah dan menutup hampir seluruh badan jalan. Jalur Kasembon-Ngantang merupakan urat nadi transportasi penting yang menghubungkan wilayah Malang Raya dengan wilayah Kediri, Jombang, dan Blitar. Akibat tertutupnya jalan ini, kendaraan dari kedua arah, baik dari arah Kediri menuju Malang maupun sebaliknya, sempat terjebak dalam antrean panjang yang mencapai radius lima kilometer.
Penanganan Darurat oleh Tim Gabungan
Laporan adanya longsor segera ditindaklanjuti oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang. Bersama personel dari Polsek Kasembon, Koramil, relawan tanggap bencana, dan warga setempat, proses evakuasi material langsung dimulai meskipun hujan gerimis masih mengguyur lokasi kejadian.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menyatakan bahwa tantangan utama dalam evakuasi ini adalah banyaknya material kayu dan rumpun bambu yang melintang di jalan.
“Kami fokus pada pembersihan jalur terlebih dahulu agar kendaraan bisa melintas, meski harus secara bergantian. Keselamatan petugas juga menjadi prioritas karena kondisi tebing yang masih berisiko mengalami longsor susulan,” jelasnya.
Satu unit alat berat (excavator) dikerahkan untuk mendorong material tanah ke tepian jurang, sementara petugas lainnya menggunakan gergaji mesin untuk memotong batang pohon yang menghalangi jalan. Tim pemadam kebakaran juga turut dikerahkan untuk melakukan penyemprotan aspal guna menghilangkan sisa lumpur licin yang bisa membahayakan pengendara sepeda motor.
Penerapan Sistem Buka Tutup
Hingga Sabtu malam, akses jalan baru bisa terbuka sebagian. Pihak kepolisian kemudian mengambil kebijakan untuk menerapkan sistem buka tutup arus lalu lintas. Skema ini dilakukan dengan melewatkan kendaraan dari satu arah secara bergantian selama 15 hingga 20 menit guna mengurai penumpukan di titik-titik kemacetan.
Para pengguna jalan diminta untuk bersabar karena laju kendaraan hanya berkisar antara 5-10 km/jam saat melintasi area bekas longsor. Petugas juga memasang garis polisi di sepanjang bahu jalan yang mengalami retakan akibat beban tanah yang bergeser.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Terhambatnya jalur Malang-Kediri ini memberikan dampak signifikan pada sektor ekonomi, terutama bagi para penyedia jasa logistik. Truk-truk pengangkut sayur dari arah Pujon dan Ngantang terpaksa menunggu berjam-jam, yang dikhawatirkan akan mempengaruhi kesegaran komoditas yang akan dikirim ke pasar-pasar besar di Jawa Timur.
Selain itu, satu rumah warga yang berada di bawah tebing dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian dapur akibat terhantam material tanah. Beruntung, pemilik rumah telah mengungsi sesaat sebelum longsor terjadi setelah mendengar suara gemuruh dari arah perbukitan. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini, namun kerugian materiil diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Kewaspadaan Selama Puncak Musim Hujan
BMKG sebelumnya telah memperingatkan bahwa puncak musim hujan di wilayah Jawa Timur diprediksi terjadi pada bulan Januari hingga Februari 2026. Jalur Pujon, Ngantang, dan Kasembon dikategorikan sebagai “zona merah” atau rawan bencana longsor.
Pemerintah Kabupaten Malang mengimbau masyarakat agar tidak melakukan perjalanan di area perbukitan saat hujan lebat berlangsung, terutama pada malam hari karena jarak pandang yang terbatas dan risiko pohon tumbang yang tinggi.
