CERMAT KITA – Pasar otomotif Indonesia sepanjang tahun 2025 menghadapi tekanan kuat dari sisi penjualan domestik. Data terbaru menunjukkan bahwa realisasi penjualan mobil nasional diproyeksikan hanya mencapai sekitar 780.000 unit, jauh lebih rendah dari target awal yang dipatok sekitar 900.000 unit. Sampai November 2025, capaian penjualan baru mencapai sekitar 710.000 unit, mengindikasikan pertumbuhan yang belum memadai menjelang akhir tahun.
Penurunan ini bukan fenomena baru. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sejak awal tahun mencatat tren penurunan dari segi wholesales dan retail. Pada periode Januari hingga September 2025, penjualan mobil tercatat menurun sekitar 12,9 persen secara tahunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Beberapa faktor utama yang memicu penurunan penjualan domestik meliputi melemahnya daya beli konsumen, perlambatan pertumbuhan ekonomi, serta pengetatan kredit otomotif yang membuat masyarakat ragu mengambil pembiayaan besar seperti kredit kendaraan. Selain itu, kenaikan harga kendaraan akibat inflasi dan pajak juga turut menjadi beban bagi pembeli.
Tidak hanya itu, konsumen Indonesia kini cenderung mengatur ulang prioritas pengeluarannya di tengah kondisi ekonomi yang tidak sepenuhnya stabil. Data juga menunjukkan bahwa segmen mobil internal combustion engine (ICE) mengalami tekanan lebih tajam di pasar domestik, sementara permintaan terhadap kendaraan listrik (EV) masih terbatas meskipun tumbuh signifikan persentasenya dibandingkan tahun lalu namun basisnya masih kecil.
Strategi Industri: Dari Lesunya Pasar Domestik ke Fokus Ekspor
Menariknya, di tengah lesunya pasar dalam negeri, sektor ekspor justru menunjukkan arah yang berbeda: naik signifikan.
Menurut data terbaru, total ekspor mobil Indonesia sepanjang 2025 diproyeksikan mampu menembus 500.000 unit, melampaui ekspektasi awal industri otomotif nasional. Capaian ini dianggap sebagai prestasi penting karena menunjukkan bahwa pabrikan Indonesia tidak hanya fokus ke pasar domestik, tetapi juga semakin kuat dalam memenuhi permintaan global.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menjelaskan bahwa produsen kendaraan di Indonesia telah sukses memposisikan diri sebagai basis produksi untuk pasar internasional. Dengan adanya fasilitas manufaktur yang lengkap, banyak pabrikan mampu mengekspor berbagai model kendaraan mulai dari mobil penumpang, kendaraan komersial, hingga unit complete knock down (CKD) ke berbagai negara.
Negara tujuan ekspor Indonesia meliputi pasar-pasar besar di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan beberapa bagian Afrika. Beberapa merek utama seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, dan Hyundai menjadi pemain besar dalam ekspor mobil CBU dari Indonesia. Sementara itu, pengiriman komponen otomotif juga meningkat meski dalam skala yang lebih berfluktuasi.
Selain itu, partisipasi mobil listrik buatan Indonesia di pasar global juga mulai terlihat. Merek seperti BYD yang berkaitan erat dengan industri EV global melaporkan pertumbuhan ekspor dan capaian produksi yang kuat secara global, meski mereka menghadapi tekanan penjualan domestik di beberapa negara lain.
Peran Investasi dan Kebijakan Pemerintah
Momentum ekspor ini juga didukung oleh investasi besar di sektor otomotif Indonesia. Baru-baru ini, produsen kendaraan listrik Vietnam, VinFast, mengumumkan rencana investasi hingga US$1 miliar untuk memperluas kapasitas produksi di Indonesia, memperlihatkan kepercayaan mereka terhadap potensi negara ini sebagai basis produksi regional.
Investasi tersebut diharapkan akan meningkatkan kapasitas produksi kendaraan listrik dan ICE, membuka peluang ekspor yang lebih besar di masa depan, serta menciptakan lapangan kerja baru. Pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan berbagai insentif bagi investasi otomotif, termasuk fasilitas pajak untuk mobil listrik, serta dukungan infrastruktur terkait kendaraan listrik.
Analisis Dampak Ekonomi
Perubahan dinamika pasar otomotif ini memiliki implikasi ekonomi yang luas. Penurunan penjualan domestik otomotif bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, karena sektor otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur terbesar di Indonesia dan memiliki efek multiplier yang tinggi terhadap lapangan kerja dan rantai pasoknya. Namun, kenaikan ekspor dapat menjadi penyangga bagi industri tersebut untuk tetap bertahan dan berkembang.
Ekspor yang kuat berarti pabrik-pabrik di Indonesia dapat mengoptimalkan kapasitas produksi mereka, memperkecil risiko idle kapasitas, dan menjaga aliran pendapatan dari pasar luar negeri. Hal ini juga membuka ruang untuk mengurangi ketergantungan pada pasar domestik semata, yang saat ini sedang mengalami tekanan.
Namun, strategi ekspor bukan tanpa risiko. Ketergantungan pada permintaan global berarti industri otomotif Indonesia perlu waspada terhadap fluktuasi ekonomi dunia, perubahan kebijakan perdagangan internasional, dan persaingan yang semakin ketat, terutama dari produsen China dan Asia Timur lainnya.
Prospek 2026 dan Tantangan ke Depan
Melihat tren saat ini, industri otomotif Indonesia diperkirakan akan melanjutkan upaya diversifikasi pasar dan memperkuat pangsa ekspor, sekaligus mencari cara untuk menyuntikkan kembali pertumbuhan di pasar domestik. Inovasi produk, adopsi teknologi kendaraan listrik, serta strategi pemasaran yang lebih agresif diperkirakan akan menjadi fokus utama sepanjang 2026.
Meskipun tekanan domestik masih ada, peluang ekspor memberikan angin segar bagi industri yang tetap menjadi kontributor penting bagi perekonomian nasional. Dengan dukungan investasi, kebijakan yang adaptif, dan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, sektor otomotif Indonesia berpotensi semakin kompetitif di kancah global.
