Penerbangan Bantuan ke Aceh Meningkat, Pasokan Avtur Digenjot

Penerbangan Bantuan ke Aceh Meningkat, Pasokan Avtur Digenjot

CERMAT KITA – Peningkatan tajam frekuensi penerbangan bantuan kemanusiaan ke Provinsi Aceh dalam beberapa pekan terakhir berdampak langsung pada lonjakan konsumsi bahan bakar jet (avtur) di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. Fenomena ini terjadi menyusul bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh serta sejumlah daerah di Sumatera akhir bulan November hingga awal Desember 2025, memicu respons kemanusiaan besar-besaran dari berbagai pihak.

Lonjakan Permintaan Avtur di Aceh

Berdasarkan data internal yang dirilis oleh PT Pertamina Patra Niaga, konsumsi avtur harian di Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Iskandar Muda meningkat drastis dari rata‑rata 51,2 kiloliter per hari (1–25 November) menjadi 114,4 kiloliter per hari (26 November–12 Desember). Lonjakan ini setara dengan 223 persen dari konsumsi normal harian.

Menurut Group Head Operation Pertamina Patra Niaga wilayah Sumatera Bagian Utara, Basuki Santoso, peningkatan signifikan tersebut didorong oleh semakin banyaknya pesawat yang tiba membawa bantuan logistik serta peralatan teknis untuk mendukung upaya tanggap darurat dan pemulihan infrastruktur.

Tak hanya di Aceh, peningkatan konsumsi avtur juga tampak pada sejumlah bandara lain di kawasan Sumatera bagian utara seperti Polonia (Medan), Pinangsori Sibolga, dan Silangit, yang berperan sebagai titik transit dan hub distribusi logistik. Bahkan di Bandara Minangkabau (Padang) dan SS Kasim II (Pekanbaru) juga terdapat tren kenaikan permintaan avtur melebihi rata‑rata normal karena mobilitas bantuan yang tinggi.

Penyebab Utama: Bencana Skala Besar

Aceh dan sebagian besar wilayah Sumatera dilanda banjir hebat dan tanah longsor sejak akhir November 2025, akibat curah hujan ekstrem yang dipicu oleh fenomena alam yang intens. Bencana ini menyebabkan ribuan rumah rusak, ratusan korban meninggal, ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal, serta berdampak terhadap infrastruktur transportasi darat.

Kondisi akses darat yang terputus di beberapa wilayah membuat jalur udara menjadi sangat penting untuk mempercepat pengiriman bantuan. Situasi ini mendorong pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan menggunakan pesawat udara, baik milik negara maupun swasta, untuk melancarkan distribusi bantuan ke wilayah‑wilayah yang sulit dijangkau melalui jalan darat.

Respons Kemanusiaan yang Meningkat

Dalam beberapa hari terakhir, berbagai lembaga, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, dan Kementerian Kehutanan, terus memperluas operasi udara mereka untuk mengirimkan puluhan ton bantuan. Kapolresta Bandara Soekarno‑Hatta menjelaskan bahwa puluhan ton logistik berupa sembako, makanan, dan kebutuhan pokok telah dikirim melalui pesawat kargo Rimbun Air dari Jakarta ke Banda Aceh.

ANTARA News juga melaporkan bahwa Polri dan WWF kembali mengirimkan puluhan ton bantuan pada akhir pekan, menandai ekspansi dari operasi yang berlangsung secara intens dalam beberapa hari terakhir. Badan nasional polisi mencatat bahwa setiap penerbangan membawa seperangkat kebutuhan pokok bagi warga yang terdampak banjir dan longsor. 

Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pengiriman bantuan melalui jalur udara dan darat. Beberapa jet serta helikopter BNPB telah mengirimkan logistik ke sejumlah kabupaten terpencil di Aceh, termasuk Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, untuk distribusi lebih lanjut kepada masyarakat yang terisolasi.

Pentingnya Sumber Energi untuk Mobilisasi Bantuan

Avtur menjadi komponen energi krusial dalam respons bencana kali ini. Ketika bandara‑bandara menjadi pusat distribusi utama logistik, maka pasokan bahan bakar pesawat yang cukup memastikan operasional penerbangan bantuan tidak terganggu. Hal ini mendorong Pertamina Patra Niaga untuk meningkatkan stok dan layanan distribusi avtur di jaringan terminalnya, bukan hanya di Aceh tetapi juga di bandara‑bandara pendukung di Sumatera bagian utara.

Upaya tersebut diklaim tidak mengganggu layanan avtur untuk penerbangan komersial reguler. Manajemen Pertamina menegaskan bahwa mereka telah menyesuaikan jadwal operasional dan pasokan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan kemanusiaan dan transportasi sipil.

Tantangan dan Jalan Ke Depan

Di tengah lonjakan kebutuhan bahan bakar dan intensitas penerbangan bantuan, tantangan logistik masih terus berlangsung. Akses terputus di beberapa daerah membuat distribusi bantuan darat tetap sulit, sehingga ketergantungan pada penerbangan bantuan masih tinggi. Ini menuntut koordinasi lintas instansi untuk terus memperkuat jaringan distribusi, baik udara maupun darat.

Pemerintah daerah dan pusat juga telah memperkuat posko bantuan di bandara Sultan Iskandar Muda untuk mempercepat pengiriman dan penyaluran bantuan ke masyarakat yang membutuhkan. Kolaborasi antara aparat keamanan, lembaga kemanusiaan, serta masyarakat diharapkan dapat mempercepat pemulihan Aceh pascabencana.